Hidup takkan pernah keluar dari
perputaran suka dan duka, anugerah dan musibah, sempit dan lapang. Dan semua
itu adalah ujian. Hanya orang-orang mukmin sejati yang mampu menyikapi setiap
keadaan tersebut secara tepat. Rasulullah mengatakan, jika mendapatkan
anugerah, mereka bersyukur maka anugerah itu menjadi kebaikan bagi mereka.
Sebaliknya jika ditimpa musibah mereka bersabar maka musibahpun menjadi
kebaikan bagi mereka.
Allah menguji hamba agar selalu
tawaduk kepada-Nya, meminta pertolongan-Nya, memperbarui rasa syukur atas
kecukupan yang Dia berikan, serta bersandar kepada-Nya. Sebab, kondisi terus
berada dalam nikmat bisa membuat manusia lalai sehingga menjadi sombong dan
lupa mengingat Tuhan.
Ujian merupakan proses pembersihan
dosa, yang menyadarkan diri dari kelalaian. Jika dihadapi dengan sabar, ujian
akan datangkan pahala, mendorong hamba untuk mengingat nikmat, mengajak kepada
tobat, serta menjadi sarana untuk menetapkan orang-orang pilihan di mata Allah
Swt.
Syuraih ibn al-Harits seorang
tabi’in, ia berkata “Ketika mendapat musibah,
aku memuji Allah sebanyak empat kali. Pertama aku memuji-Nya sebab musibah itu
tidaklah lebih berat dari yang sebenarnya. Kedua, aku memuji-Nya karena dia
memberiku kesabaran dalam menghadapinya . Ketiga, aku memujinya karena Dia
mengingatkanku akan nikmat-Nya yang sudah kudapatkan dan yang akan kudapatkan.
Keempat, aku memujinya karena Dia memberiku jalan untuk meraih pahala lewat
musibah itu.
Lihatlah bagaimana beratnya cobaan
yang menimpa nabi kita tercinta. Beliau mendapat teror yang sangat berat oleh
kaum musyrikin, Yahudi, maupun Kristen. Berbagai cobaan yang berupa pendustaan,
konfrontasi, pengusiran, olok-olok, pelecehan, umpatan, cercaan, dan tuduhan
sebagai orang gila, dukun, penyair tukang sihir, dan tukang bikin-bikin ayat,
telah dirasakannya.
Para sahabatnya diusir,
diperangi,dibunuh, para pengikutnya dihinakan, istri-istrinya dituduh melakukan
perbuatan yang tidak senonoh, didera oleh berbagai macam hinaan, diancam dengan
berbagai ancaman dan teror, diputuskan seluruh mata penghidupannya, dibuat
lapar, dimiskinkan, dilukai, dilempar batu hingga gerahamnya copot, kepalanya
terluka, harus rela kehilangan pamannya Abu Thalib yang selama ini membantunya,
istrinya Khadijah yang meninggalkannya terlebih dahulu, pernah diblokade di
Syi’ib sampai dia dan para sahabatnya harus makan daun-daunan, ditinggal oleh
puteri-puterinya meninggal, ruh anaknya (Ibrahim) dicabut di depan matanya
sendiri, kekalahan yang menyakitkan dalam perang Uhud, mayat Hamzah (pamannya)
di koyak-koyak perutnya di perang Uhud, harus menghadapi usaha pembunuhan
terencana berkali-kali, harus mengikatkan batu di atas perutnya untuk
mengganjal rasa lapar, terkadang tidak mendapatkan sepotong roti gandum atau
kurma yang paling jelek kualitasnya sekali pun, dan harus menelan pil pahit
kehidupan.
Selanjutnya, dia dan para
sahabatnya diintimidasi, hati mereka dibuat terhimpit hingga sampai
kerongkongan. Semua rencananya dihalangi. Dia harus menghadapi perlakuan kasar
orang-orang yang kejam, kezaliman orang-orang yang sombong, perlakuan jahat
orang-orang Badui Arab, kesombongan orang-orang yang kaya, kedengkian
orang-orang Yahudi, makar orang-orang munafik, dan kelambatan respon orang
terhadap dakwah yang disebarkannya. Namun akhirnya akibat baiknya tertuju untuk
dirinya, dan kemenangan berpihak padanya. Dan Allah pun memenangkan agama-Nya,
menolong hamba-Nya, menghancurkan musuh-musuh-Nya. Allah berkuasa terhadap
perkara-Nya tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.
Dari semua ujian itu apakah
sekarang kita masih menganggap ujian kita begitu berat. Sungguh kita sebagai
seorang hamba biasa tidak akan sanggup memikul beban berat seperti yang telah dialami Rasul kita tercinta. Ya Allah semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada beliau junjungan kita Nabi
besar Muhammad Saw dan juga kepada keluarga dan para sahabatnya yang tercinta.







0 komentar:
Posting Komentar